7 Syarat Kalimat Tauhid Laa Ilaha Ilallaah dan Konsekuensinya

Masih dengan bahasan seri Aqidah, kali ini akan di bahas tentang syarat tauhid Laa Ilaha Ilallaah dan apa saja konsekuensinya. Insya ALLAH pembahasan akan di permudah dengan pemahaman sesuai dengan Al Quran dan sunah.

Mungkin kebanyakan dari kita hanya sebatas mengetahui bahwa kalimat tauhid Laa Ilaha Ilallaah tidak mempunyai syarat, bahkan dalam memahami makna dari Laa Ilaha Ilallaah saja masih tidak tepat, pembahasan laa Ilaha Ilallaah yang benar sesuai Al Quran silahkan baca Penjelasan Kalimat Tauhid.

Syarat Tauhid Laa Ilaha Ilallaah

syarat tauhid

Pembahasan disini bukan tentang syarat tauhid untuk masuk surga, kalau syarat masuk surga memang benar harus berikrar dengan kalimat tauhid Laa Ilaha Ilallah.

Tapi pembahasan ini lebih ke bagaimana agar kalimat tauhid yang sudah kita ikrarkan bisa di terima oleh ALLAH sebagai sebuah tiket menuju surga.

Apa saja syarat tauhid itu:

Ada 7 syarat Laa Ilaha Ilallaah yang harus di penuhi, dan jika salah satunya saja tidak di penuhi, maka akan berakibat tidak sempurnanya tauhid kita.

1. Syarat Laa Ilaha Ilallaah pertama adalah Ilmu atau Pengetahuan

Maksudnya kita memahami dengan ilmu yang benar makna Laa Ilaha Ilallah dari segi peniadaan (Nafi) dan penisbatan/penetapan (Its’bat) yaitu “tiada yang berhak di sembah atau di ibadahi selain ALLAH”.

Jika seorang muslim sudah memahami makna ini dengan benar, maka harus mengetahui konsekuensinya. Konsekuensinya adalah jika kita menyembah atau beribadah kepada selain ALLAH maka batallah kalimat tauhid tersebut.

Jadi dengan mengetahui makna yang benar dan mengetahui konsekuensinya dengan tidak beribadah atau menyembah selain ALLAH. Maka seorang muslim dikatakan sudah mempunyai ilmu tentang tauhid yang merupakan syarat ke 1.

Dalilnya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allâh [QS. Muhammad: 19]

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa mati, dan dia mengetahui bahwa: Lâ ilâha illallâh, dia pasti masuk surga. [HR. Muslim, no. 26]

2. Syarat Laa Ilaha Ilallaah Kedua adalah Keyakinan yang Kuat Tanpa Ragu

Yakin dengan seyakin yakinnya apa yang telah kita ilmui atau ketahui tanpa ragu sedikitpun, bahwa benar tidak ada yang berhak di ibadahi atau di sembah selain ALLAH, dan mengetahui konsekuensinya jika tidak yakin dengan kuat maka bisa terjerumus kepada sirik atau golongan orang munafik.

Dalilnya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu (yakin). ” [QS. al-Hujurat:15]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allâh, dan bahwa aku adalah utusan Allâh, tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allâh dengan membawa kedua kalimat ini dan tidak ragu dengan kedua kalimat ini, kecuali dia masuk surga. [HR. Muslim, no. 27]

اذْهَبْ بِنَعْلَيَّ هَاتَيْنِ فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

Pergilah dengan kedua sandalku ini, siapa saja yang engkau temui di balik dinding ini, dia bersyahadat Lâ ilâha illallâh dengan hati yang meyakini kalimat ini (tidak ragu), maka berilah kabar gembira dengan surga. [HR. Muslim, no. 46]

Dalil konsekuensi tidak yakin atau ragu dengan kalimat tauhid:

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ

Sesungguhnya yang meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allâh dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. [At-Taubah/9:45]

3. Syarat laa Ilaha Ilallah Ketiga adalah Menerima “Al-Qobul”

Maksudnya adalah menerima semua konsekuensi dari kalimat Laa Ilaha Ilallaah dengan ridha, dan tidak menolak juga menyombongkan diri seperti orang kafir.

Dalilnya:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya mereka (penduduk neraka) dahulu (di dunia) apabila dikatakan kepada mereka: “Lâ ilâha illallâh” (Tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allâh) mereka menyombongkan diri. [Shoffaat/37: 35]

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

dan mereka berkata,”Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?” [Shoffaat/37: 36]

4. Syarat laa Ilaha Ilallah Keempat adalah Tunduk atau Patuh “Al-Inqiyad”

Maksudnya adalah kita mematuhi dan tunduk kepada semua kandungan dari Tauhid Laa Ilaha Ilallah, apa bedanya dengan yang ke 4 Al Qobul atau menerima?

Kalau menerima adalah menerima dengan ucapan dan keyakinan, maka patuh atau tunduk ini di realisasikan dengan tindakan.

Jika kita sudah mengetahui dengan keyakinan dan menerima tapi tanpa tindakan, maka tidak sempurna kalimat tauhid tersebut.

Dalilnya:

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). ” [QS. az-Zumar:54].

‎فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. ” [QS. an-Nisa:65)].

5. Syarat laa Ilaha Ilallah Kelima adalah Jujur “As Shidqu”

Jujur disini bermasud sesuai antara hati dan ucapan, jika seseorang hanya mengucapkan Kalimat tauhid ini hanya dari mulut tidak berdasarkan hatinya, maka rusaklah syarat tauhid tersebut.

Dalilnya:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Tidak ada seorangpun yang bersyahadat Lâ ilâha illallâh dan Muhammad adalah utusan Allâh dengan benar dari hatinya kecuali Allâh mengharamkan neraka atasnya”. [HR. Al-Bukhâri, no.128; Muslim no.32, dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu]

Dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan syarat selamat dari neraka dengan bersyahadat yang benar dari hatinya, tidak sekedar mengucapkan dengan lidah tapi tidak sesuai dengan hatinya. Oleh karena itu, orang-orang yang mengucapkan hanya dengan lidah saja adalah orang munafik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allâh dan Hari Kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. [Al-Baqoroh/2: 8]

6. Syarat laa Ilaha Ilallah Keenam adalah Ikhlas”Al Ikhlas”

Ikhlas disini maksudnya kita melafalkan dan mengamalkan Laa Ilaha Ilallaah murni karena ALLAH semata, tidak mengharapkan sanjungan dan juga keinginan dunia.

Dalilnya:

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

Sesungguhnya Allâh mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan Lâ ilâha illallâh, dia mencari wajah Allâh dengan (perkataan) nya.” [HR. Al-Bukhâri, no.425, 667, 686, 6423, 7938; Muslim, no. 33, 657 dari ‘Itban bin Mâlik Radhiyallahu anhu]

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus” [QS. al-Bayyinah:5].

7. Syarat laa Ilaha Ilallah Ketujuh adalah Kecintaan “Al Mahabah”

Kita di syaratkan untuk mencintai kalimat Laa Ilaha Ilallaah beserta kandungannya yang agung, yang berarti kita harus mencintai ALLAH dan Rarulnya, menjalankan perintah dan menjauhi larangannya, mencintai saudara muslim seperti mencintai diri kita sendiri.

Dalilnya:

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kqfir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela”. [QS. al-Maidah:54].

Ringkasan

Syarat kalimat tauhid Laa Ilaha Ilallaah ada 7, dan jika kita memenuhi ke7 syarat ini maka jaminannya adalah surga.

  1. Ilmu, kita wajib mengetahui dengan ilmu yang shahih makna dari Laa Ilaha Ilallaah ini yaitu bersaksi “Tiada yang patut di sembah atau di ibadahi selain ALLAH”
  2. Yakin, kita meyakini tanpa ragu akan kebenaran kandungan makna Laa Ilaha Ilallah, bahwa “Tiada yang patut di sembah selain ALLAH”
  3. Menerima, Kita menerima dengan patuh tanpa kesombongan bahwa “Tiada yang patut di sembah selain ALLAH”
  4. Tunduk atau patuh, Kita tunduk dan patuh atas konsekuensi pengikraran Kalimat Tauhid “Tiada yang patut di sembah selain ALLAH”
  5. Jujur, kita harus jujur antara pengucapan Laa ilaha Ilallaah dengan hati kita bahwa “Tiada yang patut di sembah selain ALLAH”
  6. Ikhlas, Kita harus iklas dalam pengucapan kalimat tauhid ini tanpa ada tujuan lain, semata mata karena ALLAH.
  7. Mencintai, Kita karus mencintai kalimat tauhid beserta maknanya yang pada akhirnya kita mencintai ALLAH dan Rasulnya juga syariat yang di bawanya dan juga mencintai saudara seiman yang di dalam hatinya terkandung kalimat tauhid ini.

Semoga ALLAH سبحانه و تعالى memberikan kemudahan kepada kita untuk merealisasikan ke 7 syarat kalimat tauhid ini,dan mempertemukan kita di surganya kelak.

Wallahu A’lam


Sumber:

Leave a Reply