Hadits Tentang Niat Lengkap, Disertai Penjelasan Kandungan Isinya

√ Kumpulan Hadits tentang niat lengkap disertai bacaan arab, latin dan artinya √ Penjelasan pentingnya Niat dalam beramal √ Isi kandungan dan Asbabul wurud hadits Niat √ Pendapat Ulama juga Tips untuk bisa beramal dengan niat ikhlas.

Sekarang kita masuk kedalam bab niat, yang mana ini adalah perkara penting yang seharusnya di pahami oleh segenap kaum muslimin, karena banyak sekali dari kita yang tidak memperhatikan masalah ini, sehingga banyak dari kita terjerumus kepada syirik kecil dan juga batalnya amalan.

Ini semua karena niat yang tidak sesuai dengan yang di inginkan Allah dan Rasullnya Sallalahu alaihi wassalam, kita mulai dengan definisi niat terlebih dahulu, seperti biasa kami buatkan daftar isi untuk memudahkan navigasi dalam memilih bahasan yang anda inginkan.

Apa Itu Niat?

Niat adalah keinginan untuk melakukan sesuatu perbuatan, dan letak niat ada di dalam hati. Makanya secara dhohir kita tidak akan mengetahui niat seseorang kecuali jika niat tersebut ia lafdzkan dan terdengar oleh kita, tapi niat ini sah walaupun tidakdi lafadzkan, dan cukup di dalam hati saja.

Ini sesuai dengan perkataan dari Ibnu Taimiyah rahimahullah yaitu,

وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ ؛ فَإِنْ نَوَى بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ بِلِسَانِهِ أَجْزَأَتْهُ النِّيَّةُ بِاتِّفَاقِهِمْ

Artinya: “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” [Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262]

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Siapa saja yang menginginkan melakukan sesuatu, maka pasti ia telah berniat. Contohnya jika di hadapannya disediakan makanan, lalu ia punya keinginan untuk memakannya, maka ketika itu pasti ia telah berniat untuk memakannya.

Demikian ketika ia ingin berkendaraan atau melakukan perbuatan lainnya. Bahkan jika seseorang dibebani suatu amalan lantas dikatakan tidak berniat, maka sungguh ini adalah pembebanan yang mustahil dilakukan. Karena setiap orang yang hendak melakukan suatu amalan yang disyariatkan atau tidak disyariatkan pasti ilmunya telah mendahuluinya dalam hatinya, inilah yang namanya niat.” [Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262]

Niat Terbagi Dua

  1. Niat pada siapakah ditujukan amalan tersebut (al-ma’mul lahu).
  2. Niat amalan.

Penjelasan:

1. Niat jenis pertama adalah niat yang ditujukan untuk mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat. Inilah yang dimaksud dengan niat yang ikhlas.

2. Sedangkan niat amalan itu mempunyi dua fungsi:

Fungsi pertama adalah untuk membedakan apakah itu sebagai adat atau kebiasaan dan apakah itu sebagai ibadah. Contohnya adalah tentang puasa. Puasa berarti meninggalkan makan, minum dan pembatal-pembatal lainnya. Tapi terkadang seseorang meninggalkan makan dan minum karena kebiasaan saja tanpa ada niat ibadah atau mendekatkan diri pada Allah. Terkadang pula maksudnya adalah ibadah. Dan untuk membedakan keduannya adalah dengan niat.

Fungsi kedua adalah untuk membedakan satu ibadah dengan ibadah lainnya. Ada ibadah yang hukumnya fardhu ‘ain, ada yang fardhu kifayah, Contoh di dalam sholat sunnah, ada yang termasuk rawatib, ada yang niatnya witir, ada yang niatnya sekedar shalat sunnah saja (shalat sunnah mutlak). Semuanya ini dibedakan dengan niat.

Hadits Tentang Niat

hadits tentang niat

Hadits niat yang paling umum, dan kebanyakan kita sudah mengetahuinya adalah “Innamal a’malu binniyat”, tapi sebenarnya masih banyak hadist yang masih berhubungan, dibawah akan kami tuliskan beberapa hadits yang berkenaan dengan niat.

Hadits Pertama Tentang Amalan dan Pahala Tergantung Niat

Hadits tentang niat ini diriwayatkan oleh bukhari, dan inilah hadits yang sudah terkenal yang berkenaan dengan niat, lengkapnya berbunyi:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Bacaan Latin: “Innamal a’malu binniyyat, wainnamaa likullimri yinmaanawa, waman kanat hijrotuhu illaahi wa rasululihi wa hijrotuhu illalai warusulluhu, waman kanat hijrotuhu illa dunyaa yushiibuhaa iw imro ati yatazawwajuhaa, wahijrotuhu illa maa haajaro ilayhi”

Artinya:  “Sesungguhnya amal seseorang itu tergantung dengan niatnya, dan bagi setiap orang balasannya sesuai dengan apa yang di niatkannya. Barangsiapa berhijrah dengan niat kepada Allah dan RasulNya, maka ia mendapatkan balasan hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa berhijrah dengan niat kepada keuntungan dunia yang akan diperolehnya, atau wanita yang akan dinikahinya, maka (ia mendapatkan balasan) hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut”. [Hadist Riwayat Bukhari & Muslim]

Isi Kandungan Hadits

Hadits pertama ini bersanding antara niat dan ikhlas, dan sudah kami tuliskan juga di pembahasan hadist tentang ikhlas.

Kandungan isinya sudah jelas, bahwa amal seseorang tergantung dari niatnya dan akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.

Di dalam hadits tersebut di berikan contoh tentang amalan hijrah, yang tentu ini adalah amalan mulia, ada orang yang mendapatkan pahala dari Allah karena niat hijrahnya lilahi taala, dan ada yang sekedar mendapatkan dunia atau wanita yang di cintainya karena niatnya memang untuk dunia saja.

Hadits Kedua

لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ

Artinya: “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” [HR. Bukhari, no. 1422]

Hadits ini berawal dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al Akhnas radhiyallahu ‘anhum, yang merupakan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana Ma’an berkata, bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi pada orang yang ada di masjid, -pen). Lalu Ma’an pun mengambil uang tadi, dan iapun menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda seperti hadits di atas, yaitu:

“Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.”

Kandungan hadits ini sama seperti yang pertama, bahwa semua amalan termasuk sedekah tergantung niatnya dan akan mendapatkan ganjaran sesuai apa yang di niatkannya. Walaupun sasaran yang kita tuju tidak tepat, seperti dalam contoh hadits di atas, niat sedekah untuk seseorang yang miskin tapi ternyata yang menerima tidak seperti yang di harapkan, maka pahala sedekah tetap akan di dapatkan sesuai dengan niatnya bersedekah.

Hadits Ketiga

« يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ » . قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ . قَالَ « يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ »

Artinya: “Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.” ‘Aisyah berkata, saya pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang Ka’bah)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.” [HR. Bukhari, no. 2118 dan Muslim, no. 2884].

Isi kandungan hadits pertama sampai ketiga menerangkan tentang apa yang kita niatkan maka itulah yang akan kita dapatkan, dan ini berkaitan dengan amalan ikhlas karena allah atau karena niat selainnya, yang pertama niat ikhlas karena Allah akan mendapatkan pahala disisiNya sedangkan niat selainnya akan mendapatkan apa yang diniatkannya tersebut, dan ini jika berkaitan dengan amalan agama maka tercela.

Hadits Tentang Niat Mencari Ilmu

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Artinya: “Barangsiapa menuntut ilmu hanya ingin digelari ulama, untuk berdebat dengan orang bodoh, supaya dipandang manusia, Allah akan memasukkannya dalam neraka.” [HR. Tirmidzi, no. 2654 dan Ibnu Majah, no. 253. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan].

Menuntut ilmu adalah perkara yang sangat mulia dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim, seperti yang sudah di jelaskan pada artikel hadits tentang menuntut ilmu.

Kandungan Hadits

Tapi perkara wajib dan mulia ini bisa memasukan kita ke neraka jika niat yang kita azamkan keliru dan tidak ikhlas karena ALLAH.

Seperti keterangan dalam hadits ini yang memberikan contoh niat menuntut ilmu karena ingin di gelari Ulama, mendebat orang bodoh dan agar di pandang oleh manusia, maka balasan yang akan di peroleh adalah neraka.

Maka penting untuk kita dalam menuntut ilmu niatkan untuk Allah saja, niatkan untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang kita pelajari, sehingga ilmu yang kita dapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat.

Hadits Tentang Niat dan Riya

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, di mana ia berkata,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِى مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ». قَالَ قُلْنَا بَلَى. فَقَالَ « الشِّرْكُ الْخَفِىُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّى فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ »

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al-Masih Ad Dajjal. Lantas beliau bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih samar bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal?” “Iya”, para sahabat berujar demikian kata Abu Sa’id l- Khudri. Beliau pun bersabda, “Syirik khafi (syirik yang samar) di mana seseorang shalat lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.” [HR. Ibnu Majah, no. 4204. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

Kandungan Hadits

Riya adalah beramal karena ingin mendapatkan pujian manusia, dan lagi-lagi ini masalah niat bukan karena Allah, dalam hadits ini Rasullullah menjelaskan bahaya Riya yang di katakan sebagai syirik yang samar atau syirik kecil yang bahayanya lebih daripada fitnah dajal.

Dalam hadits ini, di gunakan contoh orang sholat, yang memperbagus sholatnya, entah dengan membaguskan bacaannya, memperlama sholatnya atau menyempurnakan gerakan sholatnya, tapi ini semua, yang awalnya adalah baik dan mustahab, menjadi syirik yang samar, karena niat yang salah, yaitu niat agar di lihat dan di puji manusia.

Bahasan Lanjutan Tentang Niat Ikhlas dan Riya

Berkembang di masyarakat tentang pertanyaan amalan yang bercampur dengan riya, bagaimanakah setatus amalan tersebut? Jawabannya harus di perinci.

  1. Jika semua amalan ibadah yang kita lakukan riya’ ini jelas ibadahnya tertolak dan hal ini hanya di lakukan oleh orang munafik saja.
  2. Jika amal ibadah sedari awal niatnya tidak ikhlas, maka ibadahnya tidak sah dan tidak diterima.
  3. Jika niat awal dalam amal ibadahnya ikhlas Lilahi taa’la, tapi di tengah ibadah tersebut ia memalingkan niat ibadah kepada manusia, maka pada saat niatnya berubah ibadahnya menjadi batal.
  4. Jika niat awal dalam amal ibadahnya ikhlas, tapi di pertengahan ibadahnya ia tambahkan dari amalan awalnya tadi kepada selain Allah. Seperti kita memperpanjang bacaan quran karena ada orang yang kenal, maka tambahan ibadah inilah yang batal sedangkan niat awal yang ikhlas tidak batal, dan inilah yang di katakan sebagai amalan yang bercampur dengan riya.
  5. Jika niat awalnya sudah ikhas, Tapi setelah ia selesai melakukan ibadah tersebut, muncul pujian dari orang lain tanpa ia cari-cari, maka ini adalah berita gembira berupa kebaikan yang disegerakan bagi orang beriman. Ini berdasarkan hadits muslim yang berbunyi:
عَنْ أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ قَالَ « تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ ».

Artinya: “Bagaimana pendapatmu dengan orang yang melakukan suatu amalan kebaikan, lalu setelah itu dia mendapatkan pujian orang-orang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Itu adalah berita gembira bagi seorang mukmin yang disegerakan.”[H.R Muslim] Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ini pertanda bahwa Allah ridho dan mencintainya. Pada akhirnya makhluk pun turut menyukai orang tersebut.”[Syarh Muslim, An Nawawi, 4/2034, Mawqi’ Al Islam]

Mendapatkan Pahala Hanya Dengan Niat Karena Udzur

Maksudnya adalah kita sudah berniat untuk melakukan amalan tertentu, tapi karena terhalang karena adanya udzur syar’i, maka kita tetap mendapatkan pahala sesuai yang kita niatkan tersebut.

Keadaan ini terbagi menjadi dua, yaitu;

Pertama, jika kita sudah rutin mengamalkan suatu amalan, tapi suatu waktu karena ada udzur kita tidak bisa melakukan amalan rutin tersebut, maka kita akan tetap mendapatkan pahala seperti yang biasa kita lakukan, ini seperti hadits yang di riwayatkan oleh Bukhari.

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Artinya: “Jika salah seorang sakit atau bersafar, maka ia dicatat mendapat pahala seperti ketika ia dalam keadaan mukim (tidak bersafar) atau ketika sehat.” [HR. Bukhari,no. 2996].

Contohnya, ketika kita sudah merutinkan sholat berjamaah di masjid, tapi karena kita sakit dan tidak bisa melaksanakan sholat berjamaah di masjid, maka kita tetap mendapatkan pahala berjamaah.

Kedua, kita tidak pernah atau tidak merutinkan amalan tertentu, lalu pada suatu waktu kita meniatkan untuk melakukan  amalan tersebut, tapi kita tidak bisa melakukannya, maka kita akan mendapatkan pahala niatnya saja.

Dalilnya adalah hadits riwayat Tirmizi, yang menceritakan, ada seorang yang di berikan harta banyak (kaya) dan Ia menggunakan harta tersebut untuk kebaikan, dan ada seorang yang miskin yang mengetahui tindakan orang kaya tersebut, lalu orang miskin tersebut mengatakan, andai saya di berikan harta seperti orang kaya tersebut, niscaya saya akan melakukan kebaikan seperti yang di lakukannya.

Mendengar itu, Nabi Sallalahu alaihi wassalam mengatakan:

فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ

Artinya: “Ia sesuai niatannya dan akan sama dalam pahala niatnya.” [HR. Tirmidzi no. 2325. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih].

Faidah Hadits

Inilah ajaran islam yang sangat sempurna dan adil, tidak membebani hambanya, dan lagi-lagi semuanya karena di dasari dengan niat, jika niat kita ikhlas untuk mengamalkan suatu amalan dan karena ada udzur yang di benarkan secara syar’i kita tidak bisa melakukan amalan tersebut, maka kita tetap akan mendapatkan pahalanya.

Asbabul Wurud Hadits Tentang Niat

Asbabbul wurud atau asal kenapa hadits “Innamal A’malu Binniyat” ini turun adalah karena cerita berikut:

Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa ada seseorang pria yang ingin melamar seorang wanita. nama wanita itu adalah Ummu Qais. Wanita itu enggan untuk menikah dengan pria tersebut, sampai laki-laki itu berhijrah dan akhirnya menikahi Ummu Qais. Maka orang-orang pun menyebutnya Muhajir Ummu Qais.

Lantas Ibnu Mas’ud mengatakan, “Siapa yang berhijrah karena sesuatu, fahuwa lahu “maka ia akan mendapatkannya”.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:74-75. Perawinya tsiqah sebagaimana disebutkan dalam Tharh At-Tatsrib, 2:25. Namun Ibnu Rajab tidak menyetujui kalau cerita Ummu Qais jadi landasan asal cerita dari hadits innamal a’malu bin niyyat.

Pendapat Ulama Tentang Nadits Niat

Para Ulama memandang niat dalam suatu amalan adalah hal yang sangat penting, berikut beberapa ulama yang mengatakan pentingnya niat dalam setiap amal.

Imam Ahmad Bin Hambal

Hadits tentang Innamal A’malu binniyat di dalam kitab Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (1:61) oleh Imam Ahmad dikatakan sebagai salah satu hadits pokok dalam agama Islam atau di sebut ushul al-islam.

Imam Asy Syafi’i

Imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied dalam syarhnya (hlm. 27) Mengatakan bahwa Imam Syafi’i mengatakan kalau hadits ini bisa masuk kedalam 70 bab fikih. Dan Ulama lainnya mengatakan bahwa hadits ini sebagai tsulutsul Islam atau sepertiganya Islam.

Kesimpulan

  • Niat dalam beramal adalah hal yang sangat penting, karena dengan niat inilah amalan kita akan di terima atau di tolak.
  • Balasan untuk amalan adalah sesuai dengan apa yang kita niatkan.
  • Selalulah menjaga niat agar ikhlas karena mengharap wajah Allah, karena jika sampai niat kita tidak karena Allah maka akan rentan jatuh kepada kesyirikan.

Tips Untuk Niat Beramal Ikhlas Karena Allah

  1. Berdoa kepada Allah agar di berikan ketetapan hati akan iman dan niat amal yang lurus karena Allah
  2. Usahakan untuk merenung dan berhenti sejenak ketika akan beramal, tujuannya adalah untuk meluruskan Niat karena Allah.
  3. Koreksi niat kita di tengah beramal, dan pastikan masih lurus karena Allah.
  4. Setelah beramal, perbanyak membaca istigfar, agar Allah ampuni kelalaian kita dalam beramal, entah dalam ketidak kesempurnaan amalan maupun melencengnya niat kita.
  5. lakukan langkah langkah di atas secara konsisten, agar Allah mengetahui kesungguhan kita dan akan Allah berikan kemudahan dalam niat beramal yang ikhlas

Wallahu A’lam


Baca Juga:

Sumber:

  • Rumaysho.com

Speak Your Mind

*