Hadist Tentang Kematian dan Kisah Sakaratul Maut Yang Mengenaskan

Hadist tentang kematian

Hadist Tentang Kematian | Kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, dan sayangnya banyak dari kita malah melalaikannya, sehingga kita jarang mengingat kematian dan pada akhirnya akan membuat kita lalai dari kehidupan akhirat, ditandai dengan malasnya kita melakukan amal shalih dan mudah dalam melakukan kemaksiatan.

Kadang waktu terasa seperti berjalan dengan cepat, tidak terasa ajal sudah mendekat dan datanglah saat-saat kematian yang tidak di harapkan yang di awali dengan sakaratul maut, disinilah manusia baru tersadar bahwa selama ini kita lalai dari kematian dan tidak mempunyai persiapan untuk menghadapinya, tapi penyesalan saat itu tidak ada gunanya.

Di bawah ini akan kami tuliskan kisah tentang kematian yang cukup mengenaskan, dan semoga ini tidak terjadi kepada kita. Cerita ini saya tuliskan disini tidak lain untuk menyadarkan kita akan pentingnya melakukan amal shalih agar kejadian seperti dalam cerita ini tidak menimpa kita.

Kematian Itu Pasti Datang

Suka tidak suka, siap tidak siap, kematian akan mendatangi kita, ini adalah perkara yang benar adanya dan pasti akan terjadi, hal ini sudah di tuliskan dalam Ayat AL Quran Surat Ali Imran Ayat 182, yang berbunyi:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ

Artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati”

Lanjutan ayat:

وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [Ali Imran:185].

Dalam Ayat ini ALLAH Subhana Hu Wataala menerangkan tentang kematian yang akana kita semua rasakan, dilanjutkan dengan keberuntungan yang akan di peroleh oleh orang yang banyak pahalanya yaitu berupa keselamatan dari silsa neraka dan di masukan kedalam surga, di tutup dengan penjelasan bahwa kehidupan dan kesenangan yang kita dapatkan di dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu.

Maksudnya kehidupan dunia ini melalaikan kita dari mengingat kematian sehingga banyak orang yang tidak selamat dari azab neraka karena kelalaiannya dari melakukan amal sholeh.

Kisah Sakaratul Maut Yang Mengenaskan

Dalam buku 101 kisah teladan yang merupakan terjemahan dari kitab Qishash wa Qishah Fi Anis ash Samir al Mutaqin, karya Muhammad Amin al Jundi, di sebutkan kisah sakaharatul maut seorang yang susul khatimah padahal Ia adalah ahli ibadah.

Kisah ini di ceritakan oleh manshur bin Ammar yang megatakan bahwa dia memiliki sehabat yang suka melakukan kemaksiatan dan sering melampaui batas, dan pada suatu waktu sahabatnya tersebut bertaubat dan setelah pertaubatan tersebut Iya banyak melakukan ibadah, seperti sholat tahajud dan ibadah lainnya, karena beberapa hal, akhirnya manshur tidak lagi berkomunikasi dengannya.

Singkat certia, Maansur mendapati kabar bahwa sahabatnya tersebut sedang mendertia sakit keras, lalu mansur berangkat kerumahnya untuk taziah, dan bertemu dengan anak perempuannya, lalu anak perempuannya tersebut bertanya kepada mansur, siapa yang akan anda temui, lalu mansur menjawab bahwa ia ingin menemui fulan, lalu anak perempuannya tersebut mempersilahkan mansur untuk menemui bapaknya.

Sahabatnya tersebut terbaring di ruang tengah diatas ranjang dengan muka yang menghitam, kedua bibirnya menututup dan menjadi tebal dengan kedua matanya tertutup rapat.

Lalu mansur dengan persaan takut berkata kepadanya “wahai saudaraku, perbanyklah mengucapkan Laa Ilaha Illalah”, lalu ia membuka matanya dan menatap kepadaku dengan mimik yang penuh dengan kemarahan, lalu ia tidak sadarkan diri. Kuulangi perkataan tersebut sampai tiga kali, dan yang ketiga kalinya sahabatku itu membuka matanya dan berkata kepadaku, “wahai mansur, kalimat ini telah menjauh dariku”.

Aku berguman seraya berzikir dengan mengatakan tiada daya dan upaya selain atas izin dari ALLAH Azza Wajalla.

Lalu aku bertanya kepadanya, “wahai saudaraku, kemana perginya amalan shalat, puasa dan juga sholat malammu?”.

Lalu ia bercerita, Aku melakukan semua itu tidak ikhlas karena ALLAH taala, tapi aku melakukan itu karena ingin di puji dan di anggap bahwa aku adalah orang yang shalih dan taat beribadah, tapi sebenarnya tatkala aku sendirian aku berbuat maksiat dengan meminum khamer dan maksiat lainnya seraya menentang hukum Allah.

Aku terus melakukan hal tersebut beberapa waktu lamanya, sampai datanglah penyakit yang akan membinasakanku, saat itu aku menyuruh putriku untuk mengambilkan mushaf Al Quran dan aku berdoa kepada ALLAH dengan doa “Ya ALLAH demi keagungan dan kebenaran AL Quran ini, sembuhkanlah aku, dan aku berjanji tidak akan melakukan maksiat lagi”, maka ALLAH Azza wajalla mengangkat penyakitnya dariku.

Tapi, setelah sembuh aku melakukan kembali kemaksiatan yang seperti awal, aku lupa akan janjiku kepada ALLAH untuk tidak bermaksiat, sungguh aku sangat lalai, dan kemaksiatan ini terus berlangsung sampai ALLAH kirimkan kembali penyakit yang akan membinasakan aku, lalu aku menyuruh putriku untuk membawakan kembali mushaf AL Quran dan berdoa seperti yang pertama, yaitu aku memintga untuk di angkat penyakitku dan aku berjanji untuk tidak melakukan kemaksiatan lagi, lalu ALLAH dengan kemaha murahannya mengangkat penyakit aku kembali.

Tapi setan kembali menggodaku dan aku lalai dari janjiku kepada ALLAH sampai beberapa lama, lalu kembali ALLAH timpakan penyakit kepadaku, lalu aku menyuruh putriku untuk membawakan Mushaf Al Quran kepadaku untuk berdoa dengan perantara AL Quran, tapi saat itu Huruf Al Quran sudah tidak dapat aku lihat, dan aku sadar bahwa ALLAH sudah murka kepadaku, lalu aku mengangkat alquran ke atas kepalaku dan berdoa dengan mengatakan, “Demi keagungan dan kebenaran Al Quran, angkatlah penyakitku ini wahai zat yang menguasai dunia”.

Lalu, seakan akan ada suara yang berkata kepadaku seraya memanggil dan berkata ” Engkau bertaubat tatkala sakit, tapi saat engkau sembuh engkau kembali melakukan kemaksiatan, berapa banyak Dia telah menyelamatkanmu dari cobaan dan kesusahan, apakah kamu tidak takut akan kematian?, dan engkau sesungguhnya telah binasa dari kesalahan kesalahan yang telah kamu perbuat.

Lalu aku keluar dari rumahnya sambil menangis dan merenungkan tentang ibrah atau pelajaran dari kejadian tersebut, sebelum aku sampai rumahku, aku mendapati kabar bahwa sahabatku tersebut sudah meninggal dunia.

Semua ini terjadi karena lalai dari mengingat kematian, sehingga menganggap bahwa hidupnya akan lama dan menunggu taubat, lalu tatkala nyawa sudah sampai keongkongan baru ia tersadar akan kesalahan kesalahannya.

Kumpulan Hadist Tentang Kematian Lengkap

Membaca cerita di atas tentu akan membuat kita takut kejadian yang sama akan menimpa kepada kita, berikut kami tuliskan beberapa hadist tentang kematian dan keterangan juga nasihat dari para ulama kita tentang hadist kematian, saya tuliskan lengkap dengan bahasa arab dan artinya.

Hadits Orang Cerdas Ingat Mati

أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

Artinya: “Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang yang cerdas.” [Hadits riwayat Imam At-Tirmidzi].

Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam kitabnya Irwa’ul Gholiil no.682 menyatakan hadist shahih. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 Syeh Al Bani menilai hadits ini derajatnya hasan berdasarkan semua jalan periwayatannya.


Hadits Tentang Persiapan Kematian

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ

Artinya: “Orang cerdas adalah orang yang rendah diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, dan orang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan atas Allah,” [HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah].


Hadits Kematian Adalah Nasehat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

Artinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu mengingat kematian”. [HR Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan Ibnu Majah, No. 4.258 ].

Dalam riwayat lain yaitu Riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim terdapat tambahan:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ

Artinya: Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali akan menghilangkan kesempitan hidupnya. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu lapang, kecuali akan menyempitkan keluasan hidup atas orang itu.

Syeh Syumaith bin ‘Ajlan berkata tentang hadist di atas, bahwa seseorang yang menjadikan maut terus berada di depannya, maka orang tersebut tidak akan peduli tentang kesusahan maupun kelapangan dalam hidupnya.


Hadits Tentang Kematian Mendadak

erkait kematian mendadak, ada satu riwayat yang mengatakan katanya kematian mendadak adalah diantara tanda kiamat. Riwayat disebut-sebut adalah hadis yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dari Anas bin Malik,

إن من أمارات الساعة أن يظهر موت الفجأة

Artinya: “sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah munculnya kematian yang tiba-tiba”. [H.R At-Thabrani]

موت الفَجْأة راحة للمؤمن وأسفة للفاجر

Artinya: “kematian mendadak itu ketenangan bagi orang beriman dan murka bagi orang kafir”. [H.R Abu Dawud]


Hadits Tentang Kematian Ulama

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

Artinya: “Sesungguhnya Allah  Subhana Hu Wa Ta’ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah menanggkat ilmu dengan mematikan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang yang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang yang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka adalah sesat dan menyesatkan“ [Hadist Riwayat Imam Bukhari].

Imam Nawawi Rahimahullah dalam Syarh Nawawi lishahih Muslim 16/223-224 mengatakan, bahwa “Hadits ini menerangkan tentang maksud diangkatnya ilmu bukanlah menghapuskannya dari dada para penghapalnya, akan tetapi maknanya adalah meninggalnya para pemilik ilmu tersebut (ulam). Kemudian manusia menjadikan orang-orang bodoh untuk memutuskan suatu hukum dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain”.


Hadits Tentang Kematian Anak

Dalam hadis dari Abu Musa al-Asy’ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ماتَ ولدُ العَبْدِ ، قالَ اللهُ لمَلَائِكَتِهِ : قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ . فَيَقُولُ: قَبَضْتُم ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ . فَيَقُولُ : مَاْذَا قالَ عَبْدِيْ؟ فَيَقُولُونَ : حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ . فَيَقُولُ اللّهُ : ابْنُوا لِعَبْدِيْ بَيْتًا فِيْ الجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بيتَ الحَمْدِ

Artinya: “Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apa yang diucapkan hamba-Ku?‘ Malaikat menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun‘. Kemudian Allah berfirman, ‘Bangunkan untuk hamba-Ku satu rumah di surga. Beri nama rumah itu dengan Baitul Hamdi (rumah pujian)‘.” (HR. Tirmidzi 1037, Ibu Hibban 2948 dihasankan al-Albani)

Dalam riwayat yang lain, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَمُوتُ لِمُسْلِمٍ ثَلاَثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ فَيَلِجُ النَّارَ إِلاَّ تَحِلَّةَ الْقَسَمِ

Artinya: “Jika ada seorang muslim yang tiga anaknya meninggal, maka dia tidak akan masuk neraka. Kecuali karena membenarkan sumpah.” (HR. Bukhari 1251 dan Ahmad 7265).

Dalam riwayat yang lain dinyatakan,

لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ

Artinya: “Selama anak itu belum baligh.” (HR. Bukhari 1248)

Kemudian, dalam riwayat lain, dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنَ النَّاسِ مِنْ مُسْلِمٍ يُتَوَفَّى لَهُ ثَلاَثٌ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ ، إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

Artinya: “Tidaklah seorang muslim yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, yang belum baligh, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan rahmat yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Bukhari 1248 dan Nasai 1884)

Kemudian, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلاَثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ كَانَ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ ، أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Artinya: “Siapa yang ditinggal mati tiga anaknya yang belum baligh, maka anak itu akan menjadi hijab (tameng) baginya dari neraka, atau dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari – bab 91)

Termasuk bayi keguguran, yang meninggal dalam kandungan,

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنَّ السِّقْطَ لَيَجُرُّ أُمَّهُ بِسَرَرِهِ إِلَىْ الجَنَّةِ إِذَا احْتَسَبَتْهُ

Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya janin yang keguguran akan membawa ibunya ke dalam surga dengan ari-arinya APABILA IBUNYA BERSABAR (atas musibah keguguran tersebut).” (HR Ibnu Majah 1609 dan dihasankan al-Mundziri serta al-Albani)

Sungguh istimewa pahala bagi orang tua yang bersabar atas musibah meninggalnya anaknya.


Hadits Tentang Kematian Orang Beriman

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ

Artinya: “Orang beriman meninggal dengan kening penuh keringat.” [HR Ahmad]

Imam Ahmad bin Hambal juga meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik Radhiyallohu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ كَرَاهِيَةَ الْمَوْتِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ الْبَشِيرُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدْ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَوْ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ مِنْ الشَّرِّ أَوْ مَا يَلْقَاهُ مِنْ الشَّرِّ فَكَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

Artinya: “Barangsiapa senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah tidak senang bertemu dengannya.” Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, kami semua tidak menyukai kematian?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan itu yang aku maksud, namun seorang yang beriman apabila menghadapi sakaratul maut, maka seorang pemberi kabar gembira utusan Allah datang menghampirinya seraya menunjukkan tempat kembalinya, hingga tidak ada sesuatu yang lebih dia sukai kecuali bertemu dengan Allah. Lalu Allah pun suka bertemu dengannya. Adapun orang yang banyak berbuat dosa, atau orang kafir, apabila telah menghadapi sakaratul maut, maka datang seseorang dengan menunjukkan tempat kembalinya yang buruk, atau apa yang akan dijumpainya berupa keburukan. Maka itu membuatnya tidak suka bertemu Allah, hingga Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” (HR. Ahmad)


Hadits Tentang Kematian Orang Alim

ذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَالُوا وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ

Artinya: “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan membuatnya beramal.” Para sahabat bertanya; “Bagaimana membuatnya beramal?” beliau menjawab: “Allah akan memberikan taufiq padanya untuk melaksanakan amal shalih sebelum dia meninggal.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Ayat Tentang Kematian

أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Artinya: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? [Quran Surat An-Nisa Ayat 78]

Ayat Al Quran tentang kematian teramat banyak, kalau di gabung disini niscaya postingan ini akan sangat panjang, maka saya buat artikel tersendiri, untuk membacanya silhkan anda baca di artikel Ayat Tentang Kematian.

Nasehat Kematian Islami

Kematian adalah nasihat yang sangat nyata untuk kita, dikatakan nasihat karena dengan kematian cukuplah kita menyadari akan hakikat hidup kita di dunia ini yang sementara, dan hal terpenting bagi setiap muslim adalah bagaimana mempersiapkan bekal untuk menyambut datangnya kematian, berikut kami tuliskan beberapa nasihat dari  Rasullullah Sallalahu Alaihi wassalam dan para ulama.

Nasehat Rasulullah Tentang Kematian

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Artinya: Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku, lalu bersabda,”Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah seorang yang asing, atau seorang musafir.” Dan Ibnu Umar mengatakan: “Jika engkau masuk waktu Subuh, maka janganlah engkau menanti sore. Jika engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Subuh. Ambillah dari kesehatanmu untuk sakitmu. Dan ambillah dari hidupmu untuk matimu.” [HR Bukhari, no. 5.937].

renungan mengingat kematian

Speak Your Mind

*