Hadist Tentang Ikhlas dan Keterangan Ulama Salaf

Hadist tentang ikhlas sudah tidak asing di telinga kita, tapi apakah benar, setiap ibadah atau apapun yang bernilai ibadah sudah kita lakukan dengan ikhlas?.

Apakah kita termasuk orang yang mudah mengatakan Ikhlas ketika melakukan amalan yang bernilai ibadah, seperti:

“Saya ikhlas kok, menolong kamu” Atau “Semua yang saya lakukan ikhlas karena ALLAH”

Apakah memang semudah itu yang namanya ikhlas?

“Ingat” Ikhlas ini seperti terlihat sepele dan banyak orang mengabaikannya, padahal ini adalah kunci di terimanya amalan dan bisa merubah ibadah menjadi maksiat yang pada akhirnya akan membawa kita kepada murka ALLAH Aza wa jala.

Bagaimana cara ulama terdahulu (Salaf) memandang tentang ikhlas dan bagaimana mereka menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari hari?. Simak pembahasan ini dan renungi baik-baik.

Definisi Ikhlas

Ikhlas adalah: Ibadah semata mata hanya untuk mendapatkan ridha ALLAH SUBHANAHU WA TAALA

Tidak ada niat lain sekecil apapun, seperti ingin di puji orang (riya), ingin kedudukan dan juga ingin harta, harus murni karena mencari rjdha ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Kedudukan Ikhlas Dalam Agama Islam

Ikhlas dalam agama islam adalah sesuat hal yang sangat penting, karena ini berkaitan dengan diterimanya amalan menjadi amalan shaleh atau malah sebaliknya menjadikan amalan yang asalnya ibadah menjadi maksiat (karena Riya,sum’ah dll).

Kalau kita cermati kitab para ulama yang pertama di tulis adalah masalah Hadist tentang Ikhlas, karena betapa pentingnya kedudukan ikhlas itu sendiri.

Maka kita sebagai seorang muslim harus dengan sungguh sungguh berusaha merealisasikan keikhlasan dalam setiap amal secara terus menerus. Di bawah akan kami jelaskan cara yang efektif untuk mencapai keikhasan, tapi sebelumnya kita ketahui terlebih dahulu hadist yang berkenaan dengan ikhlas.

Hadist Tentang Ikhlas

Hadist Tentang ikhlas yang akan saya tuliskan di sini hanya 4 saja, karena menurut saya keempat hadist ini sudah mencukupi untuk bahan renungan dan kajian akan hakikat pentingnya ikhlas dalam beramal.

Hadist Ikhlas ke 1

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ – وَفِي رِوَايَةٍ : بِالنِّيَّةِ – وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ .

Dari Umar Ibnul Khaththab Radiallahuanhu, ia berkata; Aku mendengar Rasulullah Salaulahu Alaihi Wasalam bersabda: Amal itu tergantung dengan niatnya, dan bagi setiap orang balasannya sesuai dengan apa yang di niatkannya. Barangsiapa berhijrah dengan niat kepada Allah dan RasulNya, maka ia mendapatkan balasan hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa berhijrah dengan niat kepada keuntungan dunia yang akan diperolehnya, atau wanita yang akan dinikahinya, maka (ia mendapatkan balasan) hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut. [Hadist Riwayat Bukhari & Muslim]

Hadist Ikhlas Ke 2

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : اِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ. مسلم

Dari Abu Hurairah RadiAllahuanhum, ia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda,“Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”. [HR. Muslim]

Hadist Ikhlas Ke 3

وَ رَوَى اْلبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ: لَوْ اَنَّ اَحَدُكُمْ يَعْمَلُ فىِ صَخْرَةٍ صَمَّاءَ لَيْسَ لَهَا بَابٌ وَ لاَ كَوَّةٌ لَخَرَجَ عَمَلُهُ كَائِنًا مَا كَانَ. متفق عليه

“Seandainya salah seorang di antara kamu melakukan suatu perbuatan di dalam gua yang tidak ada pintu dan lubangnya, maka amal itu tetap akan bisa keluar (tetap dicatat oleh Allah) menurut keadaannya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Hadist Ikhlas Ke 4

إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang murni hanya untuk-Nya, dan dicari wajah Allah dengan amalan tersebut.” [HR. An-Nasa’I no. 3140, dishahihkan Al-Albani]

Keterangan Ulama Tentang Hadist Ikhlas

Al Khatthabi rahimahullah berkata: “Makna hadits ini, sahnya amalan dan konsekuensinya ditentukan oleh apa yang di niatkannya. Jadi, sesungguhnya niatlah yang mengarahkan amalan.”[Ma’âlimus Sunan 3/244]

Al-Hâfizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Makna al-a’mâlu bin niyât adalah amalan itu menjadi baik atau rusak, diterima atau ditolak, diberi pahala atau tidak, tergantung niatnya. Jadi, hadits ini menjelaskan tentang hukum syar’i yaitu baik buruknya suatu amalan terganutung baik dan buruknya niat.”[Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, 1/65]

Suatu ketika Yazîd bin Hârun menyebutkan (hadits ke 1), di hadapan Imam Ahmad rahimahullah, maka Imam Ahmad berkata kepadanya, “Wahai Abu Khâlid leher ini yang menjadi taruhannya.”[Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, 1/64]

Ibnu ‘Abdil Bar rahimahullah berkata: “hadist Ini (hadist ke 1) akan mempunyai konsekuensi bahwa setiap amalan tanpa disertai dengan niat berarti tidak akan sah.”[al-Istidzkâr 1/264]

Pandangan Ulama Salaf Tentang Ikhlas

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, “Apakah engkau mencari ilmu Ikhlas karena Allâh Jalla Wa Ala ?” Beliau  menjawab, “(Menuntut ilmu) Ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla itu berat (susah), namun (jika) ada sesuatu yang kami sukai, maka kami mempelajarinya.”[Raudhatul Muhibbîn wa Nuzhatul Musytaqqîn, hlm. 69].

Dalam redaksi lain yang saya dapatkan dari Ustadz Nurul Dzikri Hafidzahullah, Saat Imam Ahmad di tanya perihal yang di lakukan selama ini iklas atau tidak?, maka Imam Ahmad Berkata,”adapun Ikhlas adalah perkara berat , adapun saya, Saya hanya berusaha sekuat tenaga saya (untuk mencapai keiklasan)”.

Abu Idris rahimahullah berkata:, “Seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat keikhlasan sampai ia tidak suka lagi dipuji oleh seorang pun atas amalan yang dikerjakannya untuk Allâh Azza wa Jalla ”[Târîkh Dimasyq, 23/419]

Al-Fudhail Bin Iyad’h rahimahullah berkata, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’, dan mengerjakan suatu amalan karena manusia adalalah syirik. Ikhlas adalah jika Allâh Azza wa Jalla menyelamatkanmu dari keduanya.” [Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174]

Imam as-Syâfi’i rahimahullah berkata, “Jika engkau mengerahkan semua kemampuanmu untuk menjadikan semua manusia ridha, maka pasti tidak ada jalan untuk mewujudkannya. Kalau demikian, maka ikhlaskanlah semua amalan dan niatmu hanya untuk Allâh Azza wa Jalla semata.”[Syu’abul Îmân, 9/201]

Adh-Dhahak bin Qais rahimahullah berkata, “Wahai manusia ikhlaskanlah amalan kalian untuk Allâh Azza wa Jalla ! Karena sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas. Apabila salah seorang dari kalian memberikan suatu pemberian, memaafkan suatu kezaliman, atau menyambung silaturahim, maka janganlah dia mengatakan dengan lisannya “Ini Karena Allâh” akan tetapi hendaklah ia memberitahukannya dengan hati.”[Târîkh Dimasyq, 24/282]

Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Tidaklah mungkin engkau menjadi wali Allâh Azza wa Jalla secara lahir dan menjadi musuh Allâh Azza wa Jalla secara batin.”[Siyar A’lâmin Nubâlâ’, Cet. al-Hadîts, 9/407]

Perhatian Ulama Salaf Terhadap Keikhlasan

Seperti yang saya tulis di atas, manusia sekarang mudah sekali mengklaim bahwa amalan yang di lakukan sudah iklas, bahkan keluar dari lisannya ucapan, “Saya ikhlas dengan pemberian ini dan itu” dan ucapan yang semisalnya.

Dan hal ini berkebalikan dengan para ulama salaf, yang mereka (ulama salaf) tidak bisa mengklaim amalan yang di lakukannya sudah iklas, dan mereka berjuang untuk mendapatkan keikhlasan sekuat tenaga mereka, simak perkataan mereka.

Hisyâm ad-Distiwai rahimahullah berkata, “Demi Allâh, saya tidak bisa mengatakan, ‘Sesungguhnya saya sudah pergi sehari saja untuk mencari hadits karena ikhlas mengharapkan wajah Allâh Azza wa Jalla ”[Siyar A’lâmin Nubâlâ’, Cet. al-Hadîts, 1/46]

Al Wakî’rahimahullah berkata, “Tidaklah kita hidup kecuali di balik tirai. Seandainya tirai itu dibuka maka akan nampak perkara yang sangat besar, yaitu benar atau tidaknya niat seseorang.”[Siyar A’lâmin Nubâlâ’, Cet. al-Hadîts, 7/568]

Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah berkata, “Seandainya aku bersumpah bahwa aku telah berbuat riya’, itu lebih aku sukai daripada aku bersumpah bahwa aku tidak berbuat riya’.”[Siyar A’lâmin Nubâlâ’, Cet. al-Hadîts, 7/401]

Yusuf bin al-Husain rahimahullah berkata, “Yang paling sulit di dunia ini adalah keikhlasan. Sering aku berusaha untuk menghilangkan riya’ dari hatiku, namun seolah-olah ia muncul dengan warna lain.”

Lihat, bagaimana ulama salaf begitu menganggap perkara ikhlas adalah perkara yang sangat sulit untuk di realisasikan, tidak semudah membalikan telapak tangan dan butuh efort yang besar untuk merealisasikannya.

Tips Menggapai Keikhlasan Dalam Amal Ibadah

Tapi perkara sulit tersebut, bukan tidak mungkin untuk di lakukan, dan berikut ini adalah tips dari para ulama untuk mendapatkan keikhlasan.

1. Berdoa Kepada ALLAH Azza wa Jalla

Segala sesuatu di mulai dengan doa kepada ALLAH Azza wa Jalla, karena dengan pertolongan ALLAH Azza wa Jalla  sajalah semua amalan yang kita lakukan bisa terealisasi, begitupun dengan keikhlasan, karena ALLAH Azza wa Jalla yang memegang hati kita dan membolak balikannya.

Diantara doa untuk menjaga keikhlasan adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Robb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

[HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792]

‎اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Ya Allah yang memalingkan (membolak-balikkan) hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu”

[HR. Muslim (no. 2654)]

اللَّهُمَّ إنِّي أَسألُكَ الهُدَى ، وَالتُّقَى ، وَالعَفَافَ ، وَالغِنَى

Ya Allâh; sungguh aku meminta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, ‘iffah (terjaga dari hal-hal yang buruk) dan kecukupan (merasa cukup dan tidak mengharap apa yang ada pada manusia). [HR. Muslim]

Banyak doa yang semisal itu untuk menjaga hati ini tetap kepada ALLAH Aja wajala, atau kita juga bisa doa meminta keiklasan dengan bahasa kita sendiri, Misal:

“Ya ALLAH tetapkanlah keiklasan di dalam hati saya” atau “Ya ALLAH  Tetapkanlah hati saya untuk selalu iklas dalam beramal”.

2. Menyembunyikan Amalan

Ini adalah cara jitu untuk mencapai keiklasan, jika ada rasa berat untuk menyembunyikan amalan, maka ketahuilah itu merupakan tanda ketidakiklasan amalan kita, Lawan keengganan untuk menyembunyikan amalan ini sekuat tenaga.

Jaga dari perkataan, perbuatan dan juga postingan yang akan mengarah kepada terbukannya amalan kita.

hadist tentang ikhlas

Sembunyikan amalan kita seperti kita menyembunyikan aib dan dosa kita

#note: Yang di sembunyikan adalah amalan sunah saja, tidak berlaku dengan amalan wajib dan amalan siar agama yang mengharuskan kita untukmenampakannya. Seperti shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki, shalat i’dul fitri dan i’dul adha dll.

Tips menjaga ikhlas ini selaras dengan yang di lakukan oleh ulama salaf terdahulu.

Diriwayatkan dari Bakr bin Ma’iz rahimahullah, ia berkata, “ar-Rabi’ tidak pernah melihat seorang pun yang melaksanakan shalat sunnah di masjidnya kecuali sekali saja.”

Sufyân berkata, “Istri ar-Rabi’ bin Khaitsam telah mengabarkan kepadaku dengan mengatakan, “Seluruh amalan ar-Rabi’ itu rahasia.”

Dikisahkan bahwa ‘Ali bin al-Hushain rahimahullah pernah membawa sekantong roti di atas pundaknya pada malam hari, lalu ia bersedekah dengannya. Dan ia berkata, “Sesungguhnya sedekah secara rahasia akan memadamkan kemurkaan Rabb Subhanahu wa Ta’ala .

Al-A’masy berkata, “Suatu ketika Hudzaifah menangis dalam shalatnya. Saat selesai shalat, ia menoleh, ternyata ada orang di belakangnya. Maka ia berkata, “Janganlah sekali-kali engkau ceritakan ini kepada siapa pun.”[ar-Riyâ’, hlm. 175]

Muhammad bin Wâsi’ rahimahullah berkata, “Sesungguhnya dahulu pernah ada seorang laki-laki yang menangis selama dua puluh tahun, padahal dia bersama isterinya, namun si istri tidak mengetahui (tangisan itu).”[Dzammur Riyâ’, hlm. 176]

Ibrahim at-Taimiy rahimahullah berkata, “Mereka (para salaf) membenci apabila seseorang mengabarkan amalannya yang tersembunyi.”[Dzammur Riyâ’, hlm. 244]

3. Jauhi Ketenaran dan Sifat Ingin di Puji

Selain menyembunyikan amalan, para ulama salaf juga tidak suka dengan ketenaran dan berusaha untuk menjauhi ketenaran, karena ketenaran akan membawa kepada keangkuhan dan kesombongandan yang pasti akan membuat keiklasan semakin berat untuk di raih.

Bayangkan dengan kita yang tidak segan segan untuk mencari ketenaran, terutama di zaman sekarang yang teknologi semakin memanjakan manusia, maka ketenaran akan membuat kita bangga dan sombong, jauh dari sifat tawadhu.

Dan perlu dicamkan, bahwa pujian manusia tidak akan merubah takdir kita, jadi untuk apa kita mengharapkan pujian manusia dengan berbuat riya.

Simak kisah para ulama yang menjauhi ketenaran dan memilih sifat ketawadhuan untuk merealisasikan ke iklasan dalam beramal.

Al-Hasan berkata, “Suatu hari saya bersama Ibnul Mubârak rahimahullah mendatangi suatu mata air, sedangkan orang-orang sedang meminum air dari mata air tersebut. Lalu Ibnul Mubarak mendekat ke mata air itu untuk ikut minum, sementara orang-orang sekitar tidak mengenalnya. Mereka berdesak-desakan dengannya dan mendorongnya. Tatkala keluar, ia berkata kapadaku, “Inilah kehidupan, yaitu ketika kita tidak dikenal dan tidak disegani.”[Shifatus Shafwah, 4/135]

Abdullah bin Mubarak rahimahullah juga berkata, “Jadilah pecinta keterasingan karena benci ketenaran, Namun jangan engkau tampakkan bahwa engkau suka keterasingan, karena itu akan menyebabkan dirimu terangkat. Sesungguhnya pengakuanmu memiliki sifat zuhud itu sebenarnaya telah keluar dari sifat zuhud. Karena engkau telah memancing pujian dan sanjungan orang kepadamu.”[Shifatus Shafwah, 4/137]

4. Ketahui dan Resapi Keuntungan dan Kerugian dari Ikhlas

Keuntungan dari ikhlas adalah amalan kita akan di terima oleh ALLAH Aza Wajala, Jika 1 saja keuntungan ini sebenarnya sudah mencukupi, karena hakekatnya amalan kita iniakan sangat berguna bagi kita kelak di akherat.

Kerugian dari tidak ikhlas sangat berbanding terbalik,kita bukannya mendapatkan pahala dari amalan kita, tapi malah akan mendapatkan dosa.

Bayangkan, kita beramal agar mendapatkan pahala tapi malah dosa yang di dapat, bukankah ini suatu kerugian yang sangat besar. Renungi dosa riya, dosa sumah yang kita dapatkan karena tidak menjaga keikhlasan.

5. Bergaul Dengan Orang Shaleh yang Berusaha Menjaga Keiklasan

Pergaulan ini sangat penting dan pergaulan ini pula yang akan banyak mempengaruhi kita dalam bertindak, bersikap dan berfikir.

Jika teman atau pergaulan anda di kelilingi oleh orang yang gila pujian, gemar pamer dan jauh dari agama, maka prilaku teman anda sadar atau tidak sadar akan mempengaruhi anda dalam mengikuti kebiasaan tersebut.

Jika kita sudah mengetahui akan hakekat keiklasan, alangkah baiknya jika kita nasehati sahabat kita tersebut, tapi kalau tidak bisa di nasehati, maka menjaga jarak adalah pilihan yang sangat tepat dan bijaksana.

Kesimpulan Tentang Hadist Ikhlas

  • Ini adalah perkara besar yang sangat patut untuk kita perjuangkan, karena iklas akan menentukan di terimanya amalan atau malah menjadi sebuah dosa.
  • Bersungguh sungguh secara berkesinambungan untuk mencapai keikhlasan, dan terus evaluasi juga jangan berpuas diri dengan menganggap amalan kita sudah ikhlas.
  • Perbanyak doa kepada ALLAH Aza wajala meminta keiklhlasan, doa meminta keikhlasan jauh lebih penting dari doa meminta harta, meminta istri dan doa lainnya yang mengarah kepada dunia.

Mungkin ada yang berkata, bahwa menampakan amalan tersebut adalah bagian dari dakwah, agar orang lain yang melihatnya akan tergerak hatinya untuk melakukan amalan yang kita lakukan tersebut.

Seperti hadist ke satu diatas, amalan tergantung niatnya, dan tidak ada yang salah dengan niat dakwah tersebut.

Tapi, apakah benar dengan niat dakwah tersebut, atau jangan-jangan ini merupakan talbis iblis, silahkan anda instropeksi ke dalam niat anda tersebut dengan sejujur-jujurnya.

Dan apakah contoh para ulama salaf di atas tidak menggugah hati anda, apakah imam Ahmad yang menghafal ribuan hadist, ahli fiqih, zuhud dan berbagai macam kelebihan yang ada padanya masih menganggap berat untuk ikhlas dan mereka berusha menyembunyikan amalan mereka, lalu kita sebagai orang yang jauh dari Ilmu agama dibanding mereka, dengan entengnya mengatakan “niat saya adalah dakwah”, silahkan renungkan.

Demikian semoga bermanfaat, dan semoga saya dan anda semua di karuniai oleh ALLAH Aza Wa Jala kemudahan untuk beramal dengan ikhlas.

Wallahu A’Lam


Referensi:

  • almanhaj.or.id
  • Kajian Ustadz Nurul Dzikri Tentang Kiat Menggapai Keikhlasan

Tags:

Leave a Reply