Contoh Karangan Fiksi

Contoh karangan fiksi  yang sesuai dengan tujuan kaidah dan mempunyai makna atau moral story bagus untuk mengubah akhlak dan pandangan seseorang terhadap kehidupan dunia dan akhirat.

contoh karangan fiksi

Karangan Fiksi

Maksud karangan fiksi adalah sebuah pemikiran seorang penulis yang di buat untuk maksud tertentu, yang namanya karangan maka itu tidak asli atau bukan suatu kejadian nyata.

Dan menamakan karangan fiksi sejatinya tidak pas, karena fiksi itu sendiri adalah sebuah karangan, tapi kami tuliskan disini sebagai judul dan sub judul karena masih banyak yang mencari contoh cerita fiksi dengan karangan fiksi.

Contoh Karangan Fiksi

Berikut kami berikan contoh karangan fiksi hasil dari penulis artikel ini sendiri yang mempunyai moral story atau makna yang bagus “In sya Allah”.

Masa Depan yang Sesungguhnya

Di suatu desa hiduplah seorang nenek yang tinggal sebatang kara dalam keadaan yang menyedihkan, dengan penyakit yang ada di kulitnya dan mengeluarkan aroma busuk sehingga nenek di jauhi oleh penduduk setempat.

Sebenarnya nenek hidup agak jauh dari perkampungan, dan orang sekitar pun tidak banyak yang memperhatikan keadaannya, kecuali ketika orang orang tersebut melintasi depan rumahnya.

Ketika seorang penduduk bernama Ahmad lewat di depan rumah si nenek, dan Ia melihat kedalam rumah si nenek, maka ia dengar nenek sedang berkata dengan suara lirih:

“Ya Allah, betapa besarnya nikmat yang telah kau berikan kepadaku, aku sangat bersyukur atas semua yang telah kau berikan kepadaku”

Mendengar suara nenek tersebut, Ahmad merasa heran dan tanpa sadar ia mengeluarkan pertanyaan dari mulutnya yang di dengar oleh sang nenek,

“Apa yang bisa di syukuri dari keadaan itu, rumah reot, hidup sendiri dan sekujur badan ada penyakit kulit yang mengeluarkan bau”.

Ketika nenek mendengar pertanyaan yang tidak di sengaja tersebut, ia langsung menjawab dengan mengatakan.

” Apakah kamu tidak tahu mulut saya ini masih bisa berbicara, mata saya ini masih bisa melihat, tangan ini masih bisa untuk mencari makan dengan menanam apapun yang bisa saya makan dan masih banyak nikmat yang lainnya”

“Dan yang terpenting adalah saya masih bisa ibadah dan melakukan amalan shalih lainnya, sebagai bekal menuju masa depan”.

Mendengar masa depan, Ahmad seakan menertawai nenek sambil berkata,

“Masa depan yang mana nek?, bukan kah nenek sudah berada di masa depan, sekarang nenek ini sudah tua tidak ada lagi masa depan”.

Nenek tersenyum dan mengatakan,

” Masa depan sesungguhnya dan yang pasti adalah Alam Kubur dan alam Akhirat, itulah masa yang tidak akan ada akhirnya, yang manusia akan menerima semua amal perbuatannya ketika di dunia”.

Mendengar jawaban nenek tersebut, Ahmad tersadar betapa dalam maknanya dan menganggap, inilah pelajaran yang sangat berharga, ilmu yang sangat berharga yang banyak di lalaikan oleh sebagian besar penduduknya termasuk dirinya.


Menolak Gaji 27 Kali Lipat

Abdullah adalah seorang pemuda yang shalih dan selalu memegang prinsip prinsip agama dalam setiap aktivitasnya sahabat dekatnya yang sama sama shalih dan mereka berdua adalah tipikan muslim sejati yang hidup di zamat penuh fitnah.

Suatu hari Abdullah dan Abdurahman sedang mengadakan pertemuan dengan ke 3 sahabat lainnya yang bernama Arman, Kadir dan Aimar membahas tentang rencana proyek bisnis eksport import.

Karena pembicaraan ini sangat menarik dan menguras semua pikiran mereka, maka waktu terasa berjalan sangat cepat, dan tidak terasa di tengah tengah asiknya mereka berdikusi, terdengar adzan berkumandang dari sebuah masjid di dekat pertemuan mereka.

Abdullah langsung berbicara kepada semua yang hadir disana,

“Maaf sahabatku, adzan sudah berkumandang, ayo kita hentikan dahulu pembicaraan ini, dan kita persiapan untuk ke masjid menuniaikan Sholat Dhuhur berjamaah”.

Abdurahman langsung mengangguk dan bergegas berdiri untuk mengambil wudhu, tapi tidak dengan Arman, Arman dengan nada sedikit kesal berkata.

” Kok di hentikan, inikan pembahasan sangat penting, dan kita hampir menyelesaikan semua rencana kita, nanti saja sholatnya, kan waktunya masih panjang”.

Aimar menyetujui pendapat dari Arman, kadir agak ragu memilih pendapat mana, tapi terlihat Ia lebih cenderung kepada pendapat Arman.

Mendengar jawaban dan nada penolakan dari ketiga sahabatnya tersebut Abdullah berkata dengan lembut dan berusaha memberikan pengertian.

” Maaf Man, saya meyakini sholat berjamaah adalah kewajiban yang harus di lakukan jika tidak ada alasan atau udzur yang syar,i.” dan juga “tahukah kalau pahala sholat berjamaah itu berpahala 27 kali lipat derajatnya daripada sholat sendiri, dan mendatangi masjid mempunyai fadhilah sendiri”.

“Ketahuilah ini semua adalah perkara besar yang lebih besar dari rencana bisnis kita bahkan lebih berharga dari uang bermilyar milyar besarnya”

Mendengar jawaban dari Abdullah, Arman menjawab kembali dengan berkata.

“Saya meyakini sholat berjamaah adalah sunnah sesuai mazhab yang saya anut, saya ingin meneruskan pembahasan ini”.

Lalu Abdullah menimpali dengan mengatakan,

“Silahkan dilanjutkan jika itu memang keyakinan kamu man,  Tapi apakah kamu yakin dengan janji dari Rasullullah Salallahu alaihi wassalam bahwa siapa yang mendatangi masjid dan menunaikan sholat wajib secara berjamaah akan mendapatkan pahala sebesar 27 derajat?”.

“Jika yakin, manakah yang lebih besar dari perkara rencana bisnis kita ini, Ingat hidup kita hanya sementara dan kematian sudah ada di depan mata, jelas perkara agama lebih penting karena ini akan kekal dan menyelamatkan kita kelak di akhirat”.

Abdurahman menimpali dengan mengatakan,

“Ketika kita bekerja di suatu perusahaan, lalu ada yang menawarkan gaji sebesar 27 kali lipat asal kita mau pindah ke suatu perusahaan yang jauh berada di lain kota, apakah kita menerima tawaran tersebut?”.

“Tentu lah saya akan menerimanya, karena itu sangat besar dengan pengorbanan yang tidak seberapa, bahkan ke luar provinsi pun saya siap”, jawab Kadir dengan antusias.

“Nah itulah fadhilah sholat berjamaah, sangat besar dan sangat sayang jika di tinggalkan”, timpal Abdurahman.

Arman dan Aimar akhirnya mengangguk tanda setuju untuk menunda pembahasan bisnis mereka dan mendatangi masjid untuk menunaikan sholat berjamaah.


Demikian saja contoh karangan fiksi yang ini murni karya dari kami penulis artikel ini, semoga bermanfaat dan maaf bila ada kesalahan dan tulisan yang menyinggung.

Dan maksud kami disini bukan untuk berbohong, ini adalah hanya sekedar contoh membuat karangan cerita yang bisa bermanfaat untuk pembaca karena mengandung makna dan moral story yang baik.

Mau tahu apa saja contoh buku cerita fiksi, silahkan baca artikel tentang Contoh Buku Fiksi dan penjelasan tentang pengertiannya.

Baca juga, Contoh Buku Non Fiksi

Speak Your Mind

*