Cara Sholat Mayit Yang Mudah dan Ringkas

cara sholat mayit

Sholat mayit atau shalat jenazah ini memang jarang di lakukan, itu alasan kenapa kebanyakan dari kita sering lupa tata cara dan doanya, sehingga ketika ada pengumuman untuk mengadakan shalat mayit atau jika ada kerabat kita yang meninggal, baru kita sibuk mencari caranya.

DIsini akan di tuliskan bagaimana cara shalat mayit dengan doa yang mudah dan ringkas agar dalam pelaksanaannya kita tidak mudah lupa. Dan di lengkapi juga dengan tulisan latin untuk anda yang belum bisa baca AL’Quran.

Cara Sholat Mayit dan Doa yang Ringkas

Untuk mempermudah akan saya tuliskan caranya dengan doa yang ringkas, dan di akhir tulisan baru akan saya tuliskan doa yang panjang beserta dalilnya.

1. Niat

Niat tidak perlu dilafalkan, cukup niat di dalam hati saja, dan ketika anda akan menshalatkan jenazah sebenarnya itu sudah termasuk niat juga.

2. Berdiri

Jika tidak ada udzur Syar’i maka di wajibkan untuk berdiri, kecuali memang ada udzur syari yang menyebabkan kita tidak bisa berdiri, maka boleh di lakukan dengan cara duduk.

3. Takbir sebanyak 4 kali

Untuk takbir dilakukan seperti dalam shalat fardhu dengan mengangkat tangan, untuk rinciannya adalah sebagai berikut:

Takbir pertama adalah takbiratul ihram, dan di lanjutkan dengan membaca Taa’wudz lalu surat Al-Fatihah.

Di mulai dengan Taa’wudz lalu membaca surat AL Fatihah dengan suara di lirihkan “cukup terdengar oleh diri sendiri”. Walaupun jika pelaksanaan shalat mayit di lakukan pada malam hari. Tidak di sunahkan untuk membaca doa Iftithah.

Takbir kedua di lanjutkan dengan membaca shalawat

Bacaan minimal shalawat yang mencukupi dalam sahnya shalat jenazah adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍوَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Latinnya: “Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad”

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad”

Takbir ketiga di lanjutkan dengan membeca doa bagi mayit.

Minimal untuk doa pada takbir ketiga untuk jenazah laki-laki adalah:

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ

Latinnya: Allâhumaghfir lahu

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia (laki-laki).”

Sedangkan minimal bacaan doa ketika jenazah perempuan adalah membaca doa berikut:

اللهم اغْفِرْ لَهَا

Latinnya: Allâhumaghfir lahâ

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia (perempuan).”

Takbir keempat setelah takbir keempat, anda bisa memilih untuk diam sejenak sebelum salam atau membaca doa terlebih dahulu sebelum salam, Jika ingin berdoa, berikut doanya:

Untuk Mayit Laki-laki:

اللهُمّ لاتَحرِمْنا أَجْرَهُ ولاتَفْتِنَّا بَعدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

Latinnya: Allâhumma lâ tahrimnâ ajrahu wa la taftinna ba’dahu waghfir lanâ wa lahu

Artinya: “Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan beri fitnah (cobaan) bagi kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.”

Untuk Mayit Perempuan:

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا

Latinnya: Allâhumma lâ tahrimnâ ajrahâ wa la taftinna ba’dahâ waghfir lanâ wa lahâ

Artinya: “Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan beri fitnah (cobaan) bagi kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.

4. Melakukan 2 kali Salam

Salam ini layaknya salam pada saat shalat fardhu dengan memalingkan wajah kekanan dan kekiri.

Doa Shalat Mayit Yang Panjang dan Lengkap

Cara shalat jenazah yang panjang ini sama seperti cara yang ringkas di atas, yang membedakan adalah shalawat pada takbir yang ke dua, doa pada takbir yang ketiga dan doa pada takbir yang keempat.

Shalawat yang lengkap setelah takbir kedua adalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Latinnya: Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ shallaita ‘alâ Ibrâhîm wa ‘alâ âli Ibrâhim, wa bârik ‘alâ Muhammad, wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ bârakta ‘alâ Ibrâhîm wa ‘alâ âli Ibrâhîm fil ‘âlamîna innaka hamîdun majîd.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkan pula keberkahan bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan bagi Nabi Ibrahim dan bagi keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Doa yang lengkap setelah takbir yang ketiga adalah sebagai berikut:

Ketika jenazah berkelamin laki-laki maka doanya adalah:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Latin: Allâhummaghfir lahu warhamhu wa ‘âfihi wa‘fu anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu waghsilhu bilmâ’i wats tsalji wal baradi, wa naqqihi minal khathâyâ kamâ naqaita ats-tsauba al-abyadh minad danasi, wa abdilhu dâran khairan min dârihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa adkhilhu al-jannata wa a’idzhu min ‘adzâbil qabri wa min adzâbinnâr

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, bebaskanlah dan maafkanlah dia. Muliakanlah tempatnya, luaskanlah kuburnya, dan mandikanlah ia dengan air, salju, dan es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran. Berikan ia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Kemudian masukkanlah ia ke dalam surga dan lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa neraka.

Sedangkan jika jenazah perempuan, maka doannya adalah:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَها وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وأَدْخِلْهَا الْجَنَّةَ وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Latin: Allâhummaghfir lahâ warhamhâ wa ‘âfihâ wa‘fu anhâ wa akrim nuzulahâ wa wassi’ madkhalahâ waghsilhâ bilmâ’i wats tsalji wal baradi, wa naqqihâ minal khathâyâ kamâ naqaita ats-tsauba al-abyadh minad danasi, wa abdilhâ dâran khairan min dârihâ wa ahlan khairan min ahlihâ wa zaujan khairan min zaujihâ wa adkhilhâ al-jannata wa a’idzhâ min ‘adzâbil qabri wa min adzâbinnâr

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, bebaskanlah dan maafkanlah dia. Muliakanlah tempatnya, luaskanlah kuburnya, dan mandikanlah ia dengan air, salju, dan es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran. Berikan ia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Kemudian masukkanlah ia ke dalam surga dan lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa neraka [HR Muslim no. 963].

Posisi Imam

Posisi imam untuk shalat jenazah berbeda antara perempuan dan laki-laki, berikut perbedaannya dan juga dalilnya.

Posisi Imam Mayit Laki-Laki

Imam menghadap kepala jika jenazahnya adalah laki-laki.

Posisi Imam Mayit Perempuan

Imam berdiri di tengah, atau di sekitar perut jenazah perempuan.

Dalilnya:

Diriwayatkan dari Abu Ghalib al-Khayyath, dia berkata, “Aku pernah menyaksikan Anas bin Malik menshalati jenazah laki-laki, maka dia berdiri di samping kepala mayit, manakala jenazah laki-laki itu telah dibawa, dihadapkan kepadanya jenazah perempuan dari Quraisy atau Anshar, lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai Abu Hamzah (Anas) ini adalah jenazah Fulanah binti Fulan, shalatilah ia.’ Maka dia pun menshalatkannya dan dia berdiri di tengah-tengah jenazah itu. Saat itu ikut hadir bersama kami al-‘Ala-i bin Ziyad al-‘Adawi, ketika dia melihat perbedaan tempat berdirinya Anas saat menshalati jenazah laki-laki dan perempuan, dia pun bertanya, ‘Wahai Abu Hamzah, apakah memang demikian posisi berdirinya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menshalati mayit sebagaimana yang engkau lakukan?’ Dia pun menjawab, ‘Ya, memang demikian.’ Kemudian al-‘Ala-i menoleh ke arah kami sambil berkata, ‘Peliharalah oleh kalian (Sunnah ini).[Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1214)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (VIII/484, no. 3178), Sunan at-Tirmidzi (II/249, no. 1039), Sunan Ibni Majah (I/479, no. 1494).]

Jumlah Shaf Sholat Jenazah

Berapa jumlah shaft shalat jenazah yang utama? Secara umum jumlah orang yang menshalatkan banyak maka itu lebih utama, karena dengan banyaknya yang menshalatkan maka yang mendoakan akan banyak juga, dan jumlah shaft tentu akan banyak juga.

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang Muslim meninggal,lalu dishalatkan oleh kaum muslimin yang jumlahnya mencapai seratus orang, semuanya mendo’akan untuknya, niscaya mereka bisa memberikan syafa’at untuk si mayit” (HR. Muslim no. 947).

Tapi bagaimana jika jumlah orang yang menshalati tidak banyak, dan kalau mengikuti ruang masjid, hanya dapat 1 shof?.

Kalau seperti itu, maka di buat 3 shaf, walaupun pershafnya tidak penuh, ini berdasarkan hadist dari Imam Tirmidzi berikut:

مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ صُفُوفٍ فَقَدْ أَوْجَبَ

“Barangsiapa yang menshalatkan jenazah dengan membuat tiga shaf, maka wajib baginya (mendapatkan ampunan)” (HR. Tirmidzi no. 1028).

Memang ulama berbeda pendapat tentang ke shahihan hadist ini, tapi yang perlu menjadi catatan adalah perbanyaklah jumlah orang yang menshalatkannya.

Baca Juga: Keutamaan Sholat Mayit

Sumber: https://muslim.or.id/44196-fikih-pengurusan-jenazah-2-shalat-jenazah.html

Dalil Tentang Cara Sholat Mayit

Dalil cara shalat jenazah di atas berdasarkan hadits dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu’anhu:

أنَّ السُّنَّةَ في الصَّلاةِ على الجِنازة أن يُكبِّرَ الإمامُ، ثم يقرأَ بفاتحةِ الكتابِ- بعدَ التكبيرة الأولى- سِرًّا في نفْسِه، ثم يُصلِّيَ على النبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم، ويُخلِصَ الدُّعاءَ للميِّت في التكبيراتِ، لا يقرأُ فى شىءٍ منهنَّ، ثم يُسلِّم

“Bahwa sunnah dalam shalat jenazah adalah imam bertakbir kemudian membaca Al Fatihah (setelah takbir pertama) secara sirr (lirih), kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, kemudian berdoa untuk mayit setelah beberapa takbir. Kemudian setelah itu tidak membaca apa-apa lagi setelah itu. Kemudian salam” [HR. Asy Syafi’i dalam Musnad-nya [no. 588], Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra [7209], dishahihkan Al Albani dalam Ahkamul Janaiz 155].

Perhatikan hadist diatas:

Bertakbir lalu baca AL’Fatihah, Bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, Berdoa untuk mayit, lalu diam dan tidak melakukan apa apa sebelum salam.

Dan untuk doa mayit yang panjang di atas adalah hadist riwayat imam Muslim No.963

Dalil jumlah takbir dan mengangkat tangan

Takbir shalat jenazah adalah empat kali. berdasarkan hadist Muslim dan Bukhari, Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu:

أنَّ رسولَ الله صلَّى الله عليه وسلَّم صلَّى على أَصْحمَةَ النجاشيِّ، فكبَّر عليه أربعًا

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menshalati Ash-hamah An Najasyi, beliau bertakbir empat kali” [HR. Bukhari no. 1334, Muslim no. 952].

Ulama telah ijma tentang disyariatkannya mengangkat tangan pada takbir yang pertama. Ibnu Mundzir dalam kitab Al Ijma mengatakan:

أجمَعوا على أنَّ المصلِّي على الجِنازَة يرفع يديه في أوَّل تكبيرة يُكبِّرها

“Ulama ijma bahwa orang yang shalat jenazah disyartiatkan mengangkat tangan di takbir yang pertama” (Al Ijma, 44).

Tapi untuk masalah mengangkat tangan saat takbir 2, takbir 3 dan takbir 4 para ulama berselisih, tapi yang kuat insya ALLAH mengangkat tangan di setiap takbir, dalilnya adalah Hadist riwayat Ibnu Abi Syaibah:

كان يرفعُ يَديهِ في كلِّ تكبيرةٍ على الجِنازة

“Ibnu Umar radhiallahu’anhu mengangkat tangannya di setiap kali takbir dalam shalat jenazah” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf [11498], dihasankan Syaikh Ibnu Baz dalam Ta’liq beliau terhadap Fathul Baari [3/227]).

Juga riwayat dari Ibnu Abbas yang mengatakan:

أنَّه كان يرفعُ يَديهِ في تكبيراتِ الجِنازة

“Bahwasanya beliau biasa mengangkat kedua tangannya setiap kali takbir di shalat jenazah” (dishahihkan Ibnu Hajar dalam Talkhis Al Habir, 2/291).

Dalil atau alasan berbedanya doa antara orang yang meninggal pria dan doa orang meninggal perempuan.

Sudah dijelaskan oleh ulama, bahwa doa yang kita panjatkan harus tertuju kepada yang di doakan, dan di dalam bahasa Arab, untuk kata ganti laki-laki dan perempuan itu berbeda, maka di dalam doa shalat jenazah kita mengganti kata ganti tersebut dengan jenis kelamin dari jenazah yang kita shalatkan.

Baca Juga: Tempat Yang Utama Menshalatkan Jenazah

Wallahu A’lam

Leave a Reply